Rabu, 28 Maret 2012

Persahabatan itu.....


Kita tak pernah terangkul dalam raga
Tak tersentuh juga
Dalam tiap detik yang menjajaki jari ini
Menapaknya, seperti kita tapaki nanti
Kita tak terlibatkan pada sebuah maut yang terpaut

Membicarakan tiap desah menari
Dalam sebuah cerita yang tanpa tepi
Kita adalah kita yang tak mati
Walau tak ada simpul dari ruh ini
Jiwa kita terpatri dari benak yang berdiri sendiri
Kita lah sebuah persahabatan ini…..

Persahabatan itu seperti embun di tengak terik matahari

Seperti pelita ditengah gelap
Seperti senyum di tengah tangis
Dan itulah persahabatan kita

Kita lah sebuah persahabatan itu

Jika saja masa ini bukan sebuah harapan
Mungkin bukan hanya waktu yang ingin ku hentikan
Pedih ini juga akan tertimbunnkan
Karna ini terlalu sepi
Terlalu sunyi tuk jadi sebuah catatan

Aku ya seperti ini
Seperti pagi yang tak terhampiri
Bila ingin mendekap sang mentari
Menjemur pagi hingga darah ini tak lagi berarti

Karna aku ya seperti ini
Dan terus menerus seperti ini
Mengharap persahabatan yang akan tetap hangat di hati

Selasa, 27 Maret 2012

Gilee Benerrrr 2


Batin ini masih menentang kenyataan. Batin ini terus mendesakku untuk menyatakan perasaaan indah akan jatuh cinta ini pada ‘dia’. Slalu perlahan ku tunjukkan cinta, perhatian bahkan yang gak pernah ketinggalan yaitu kata-kata berumusku layaknya puisi atau lagu yang hanya ku tujukan padanya.

Ku buka diary bergambar Barbie dan ku baca ulang diaryku beberapa hari lalu…

                Senin,21 juni 2010…

Ku peluk bantal dan ku coba untuk berfikir bagaimana untuk menepis dan membuang jauh-jauh rasa ini. Ku coba untuk melupakan semua yang pernah aku alami dan segala cerita tentang KITA. Bagaimana cara agar otak ini terkontrol untuk tIdak slalu mengangan-angankan ‘dia’. Ingin rasanya ku cuci saja otak ini dengan deterjen dan ku mulai perjalanan cintaku kembali  tanpa menoleh kebelakang lagi. Yang jelas aku pasti gak akan mengingat wajah ‘dia’ lagi. Tapi, sayangnya ada satu titik dimana titik itu sangat sensitive  didalamnya. Otak ini saja sudah melambaikan bendera putih akan titik ini. Titik perasaan. Cinta begitu saja mudah datang sendiri dan seenaknya saja masuk dalam ruangan perasaan.

Hhhmmm….hari ini kuputuskan untuk berkunjung dan mendatangi sekaligus ingin menenangkan jiwa ini pada sahabatku. Yuki. Kuraih sepeda motor, pamit dan segera ku tancap gas meraih belaian dan kata-kata tenang dari Yuki. Dan aku sampai. Tepatnya diwilayah Narmada. Bertemu dengannya dan langsung memeluknya. Tak sungkan untuk bercerita padanya ataupun menangis didepannya. Tak sungkan ku ceritakan segala perasaan yang begitu menjadi harapan semu yang tak pernah ada setitik cahaya jawaban. Semua yang begitu menyiksa hati. Tentu saja, yang semua ini gara-gara ‘dia’.

Slalu ku katakan pada ‘dia’, hati ini slalu siap untuk menunggu akan kehadirannya untuk memberikan cinta. Yang tak kusadari kini, aku tlah menunggu kehadirannya itu selama hampir 5 bulan sudah. Huft..perih dan sakit. Tapi indah. Campur aduk rasanya.  Yuki pun terus saja memberikan petuah-petuahnya. Ku baringkan diri disampingnya dan menutup perlahan mataku. Lelapku pun datang.
               
                21 Juni 2010 pukul 16.52

Hahahahaha….tawa itu terus tersampaikan dari bibir manis Ibu kala mendengar cerita akan rasaku pada ‘dia’. Rasanya sedikit malu. Tapi ya sudahlah. Its my mom..!!. Tawa itu hanya sejenak. Entah kesan tawa senang akan rasa perih ini atau tawa mengejek? Aku jelas tak tahu pasti. Cara penyelesaian pun keluar dari mulutnya. Agak bertele-tele tapi harus tetap dihargai. Semangat terus mengalir dari tatapan mata dan ucapannya. Aku semakin yakin dan tak akan menyerah untuk terus bertiang walaupun hanya pada harapan semu.

Pukul 19.36
Ya ya ya…seperti biasa. Malam ini aku hanyut dalam sms dari ‘dia’. Terus bercanda. Dan akhirnya ku perlahaan mengajaknya untuk berbicara mengenai perasaan yang ada diantara aku dan ‘dia’. Dan salah satu sms ku pun sulit dibalasnya. Lama. Untuk mengisi kekosongan, ku curi sedikit waktu untuk membuka aplikasi facebook dan ku buka profil milik ‘dia’. Lalu kukirimkan pesan singkat pada ‘dia’.

Cukup hanya dengan beberapa kata saja ‘dia’ pasti mengerti akan hati yang berharap akan cinta dari dia. Bukan kata I love you ataupun aku cinta padamu. Namun, suatu kata yang memang akan sedikit mengejutkan ‘dia’ tentunya nanti. Ku ucap basmalah, pasrah, dan SEND MESSAGE.
Sms dariku pun dibalasnya. Entah karna ‘dia’ lama membalas atau operator yang jahil? Karna gak suka ngelliat aku bahagia tenggelam dalam kata-kata dari ‘dia’. Segera ku jalankan strategi. Bukan strategi dari Yuki dan bukan pula dari Ibu. Ku pilih caraku sendiri. Walaupun agak menyakitkan nantinya. Simple. Penuh tantangan.
               
Ku rangkai kembali rumus-rumus untuk segera mengakhiri rasa ini dan untuk menyelesaikan segala harapan semu yang aku hadapi selama 5 bulan terakhir  ini. Birlah ‘dia’ tau.

Bka inbox fb, dan tmukan ssuatu ddlam.nya. udh dlu ya..ngntuk..pgen bubuk..daa…smsx lnjut bsok ajh yaa..

Smsku yang terakhir ku peruntukkan padanya. Yang ku katakan aku ingin istirahat. Padahal, mata ini sangat terbuka lebar dan tak berkedip. Sekian menit berlalu dan sms darinya pun datang. Terucap kalau ‘dia’ sangat terkejut dan tak pernah menyangkai bahwa dirinya lah yang slama ini ku gilakan. Tapi, sms itu tak ku jawab. Ku biarkan. Cukup sampai disitu. Aku takut kalau nantinya harus berdebat dengan ‘dia’. Hingga dua buah sms darinya kembali menyusul malam itu. Sms pertama dari ‘dia’. ‘Dia’ mengajakku untuk bertemu mengerjakan sesuatu yang ‘penting’ adanya. Dan sms terakhir darinya…

Bintang. Akankah kau datang untukku. Biarkan.
Malam ini hanya untuk kita.
Ceritakan tentang manusia yang bermimpi memetikmu.
Bintang. Aku ingin katakan padanya. Betapa rindu hati.
Untuk dapat melihat senyumnya.
Dengarkanlah kau bintang. Lagu cintaku untuknya.
Bintang. Biarkan malam terus berjalan. Izinkan ku pinjam.
Satu yang indah dari sinarmu. Untuk jadi hiasan dalam lelap tidurnya.
Biarkan member kesan indah pada dunia.
Biarkan semua duka pergi dari hatinya.

Tak kupercaya. Dan entah mengapa. Sms terakhir itu MENJATUHKAN AIRMATAKU!!. Aku sekarang pasrah. Aku setidaknya merasa lega. Tapi, jika aku memang harus kehilangan ‘dia’, aku pasti akan merindukan segala kata-kata puisi dan lagu-lagu dari ‘dia’.

                Selasa, 22 juni…

Aku dan ‘dia’ masih tetap berhubungan seperti sedia kala. Tak ada yang berubah. Seolah memang gak pernah terjadi apa-apa. Sampai untuk kedua kalinya ‘dia’ kembali mengajakku bertemu untuk memberikanku ‘something’. Pukul 08.00 di sekolah. Tepat pada pukul 07.15 ku hubungi ‘dia’ untuk menanyakan kepastian akan pertemuan. Karna teman-temanku mengajak untuk pergi ke pantai. Tapi, ‘dia’ tak membalasnya. Kuanggap saja dengan ucapan iya. Fikirku, mungkin saja pulsa habis sehingga harus membalas sms saja gak bisa. Langsung saja ku batalkan rencana pergi kepantai dengan alasan yang mengada-ada. Karna aku memang ingin bertemu ‘dia’. Kapan lagi coba???.

Dan aku bersiap-siap. Pukul 08.30 pun aku sudah siap. Aku mengerang sendiri dalam kamar..Duuuh !! aku telat !! moga dia gak marah !! kembali ku kirimkan sms padanya. Menanyakan kepastian. Menanyakan dimana keberadaannya. Apa sudah nunggu di sekolah? Atau mungkin masih dijalan. Dan sesuatu yang sudah dari awal kutakuti ini terjadi. Tepat saat ku ingin keluar dari rumah dan mengunci pintu, sms datang dari ‘dia’ dan…..BATAL !!!

Setelah kejadian itu, aku hanya berusaha untuk sabar dan mungkin memang takdir untukku kalau aku memang tak akan dapat jawaban dari rasa ini. Tapi, aku juga manusia biasa. Tentunya ada sedikit rasa kesal dan kecewa yang mendalam. Di kala aku harus batalkan acara bersama teman-teman hanya untuk ingin bertemu tatap muka dengannya. Walaupun begitu, perasaan ini tetap seperti awalnya. Menunggu RASA ini dijawab ‘dia’.

                Sabtu, 25 Juni 2010..

Hingga hari ini, aku hanya bisa berharap. Dan karakter cuek bebek itu semakin kuat. Entah apa artinya. Tapi, yaa sudahlaaah. Semua ini mungkin selesai sampai disini. Entah apa yang terjadi selanjutnya nanti hanya Tuhan yang tahu. Aku hanya bisa melihat waktu per waktu perkembangannya. Biarlah hati ini terus berharap dan menanti kehadiran ‘dia’ mewarnai hari-hari. Hingga hari ini, ku akui aku masih mencintainya…
Satu harapan terakhirku. Ku harap perasaan indah ini hanya mimpi. Aku ingin bangun dari mimpi ini…

Minggu, 26 Februari 2012

Gilee Benerrrr


“Tumben nih banyak diem, Dek?” sapa seorang laki-laki imut wajahnya nan lembut hatinya. Tak lain adalah kakakku. Capunk. Aku tak bergeming dari tempat santai favoritku didepan rumah, aku tak ada anggapan padanya. Hanya senyum tertahan yang kuberi padanya. Ia pun segera hilang dari hadapanku. Heran juga aku, kok bisa ya tiba-tiba diam terbisu kala tersenyum dihadapan seseorang yang ku sebut ‘dia’.
              
Kembali ku duduk di depan rumah menunggu adzan magrib tiba. Serakan buku Akuntansi yang ku baca lembar demi lembarnya hingga tak ada yang tersisa. Semua sudah ku baca. Kala ku ingin beranjak ke kamar, azan maghrib pun mengiringi dan menyambut seluruh kampong ‘Stun Kompleks’ datang dan segera melangkahkan kaki menuju masjid. Sedangkan aku saat ini masih saja dalam goyangan tangan menuangkan air dari botol dan minum hanya dalam dua tegukan air putih saja untuk berbuka, lalu shalat maghrib dan kembali ke dapur untuk bermain bersama dengan piring dan kawan-kawan seperjuangannya. Biasanya aku yang jika petang slalu mengurung dri dikamar hingga isya’ datang, malam ini rasanya berbeda. Aku keluar kamar dan kembali pada posisi nyamanku di depan rumah dalam kebingungan suasana rumah. Hari ini terasa ceria dan entah mengapa aku juga tak tahu sebabnya. Bingung mendatangiku, apa benar aku……??sama ‘dia’??

Memang akhir-akhir ini lepas cobaan dari berpuasa tadi, atau setan manakah yang mengusik hatiku tentang hati yang tak menentu. Tak menentu memang terbesit wajah ‘dia’ yang mungil dan baby face !!. ia begitu dekat dengan siapa saja. He’s friendly. Dan ternyata ‘dia’ juga seorang yang begitu penting kehadirannya ditengah-tengah teman-teman sebayanya. Gileee beneeer…!!!
               
Bagiku bulan ini bulan yang penuh barokah. Tapi, mengapa aku diberikan goncangan yang begitu dahsyat seperti ini?? Hatiku terus bergetar melihat dan membayangkan baby facenya. Aku terus mencuri pandang dan mencoba untuk dekat dengannya. Baik cakap atau pun smms dengan kata-kata berumusku. “Aku gilaa!! Apa ‘dia’?? sungguh bener-bener gak nyaman!! Masa’ iya?? Aku belum percaya pasti. Tapi, mengapa jika tak ada hadirnya di ppelupuk mataku, aku mencarinya???”
               
Aaaaarrrrrgggghhhhh………..!!!!!!! hati ini perlu penenangan khusus! Jiwa yang bertarung antara benar atau tidak yang aku alami. Dalam kebimbangan itu aku terus berusaha untuk menepis rasa ini. “I’m really falling love with him..!!” tapi kenapa harus ‘dia’?? apa yang istimewa dari ‘dia’?? kenapa gak yang lain aja?? Dan hati ini terus saja kembali menentang kenyataan.
               
Hingga tengah malam pukul 01.30 aku mencoba menguasai hatiku kembali. Ku raih handphone ku dan tenang dalam sms dari ‘dia’. Waaaaaa….pulsa limit!! Aku segera menelepon teman sekelasku yang punya konter pulsa dan aku memintainya isi ulang. Cukup 5 ribu saja. Detik-detik pun menunggu dengan hembusan nafasku. Hingga akhirnya pulsa itu masuk. Pulsa yang aku khususkan untuk ‘dia’ sebenarnya. Aku sudah merangkai kata-kata yang baik dan sopan agar tidak terjadi salah paham. Karena aku tahu ‘dia’ memiliki karakter yang cuek bebek. Gak peduli. Kadang sms-ku saja sult untuk dibalasnya. Kesel juga sih. Aku mulai menekan key-pad HPku, tapi rasanya kata-kata yang sudah tersimpan dalam memoriku gak bisa keluar!! Tuhan..tolong aku!! Gak berani !! ini bener-bener gila !! aku pun berteriak ditengah heningnya malam. Aku tutup mataku dank u bungkam wajahku dengan bantal lusuh dikamarku dan aku tak bergeming lagi.
               
Mengapa aku tidak punya keberanian untuk menjelaskan perasaan sakit ini, aku tersiksa. Aku benar-benar benci!! Ada apa dengan ku??!! Aku terus berfikir sambil mengenang wajah baby face yang dimiliki si ‘dia’ melalui anugrah Tuhan. Aku merasa ada sesuatu yang berubah dalam priibadiku bila aku betemu kebetulan dengan ‘dia’. Yang semula aku bercanda tapi sekarang aku kaku, entah ia juga kaku?? Akhirnya hanya kebisuan yang terjadi. Batinku dalam hati, apa ia juga merasakan apa  yang aku rasa? Atau hanya aku yang memang sudah sangat gila dengan cinta? Apa aku terlalu jauh kedasar jurang lautan cinta? Atau ia tidak punya perasaan sama sekali tentang sikap dan perasaanku selama ini? Batin ini slalu bertanya sambil menunggu waktu yang menjawab, entah sekarang, besok, nanti atau mungkin tak akan pernah ada jawabnya.